Monday, February 11, 2013

Puisi-Narasi. Refleksi di Bus P-20 (Lb Bulus-Senen), Jakarta

Di Bus P-20 (Lb bulus-Senen), Jakarta
12 Februari 2012

Ini adalah hari keempat aku bekerja di Sadra Publishing; sebuah kantor penerbitan buku-buku filsafat dan tasawuf yang berlokasi di Pejaten, tepatnya di Jalan Jati Padang Utara, dekat Republika. Arah ke Pejaten dari lebak bulus bisa ditempuh dengan menaiki bus kopaja P-20. Sadra adalah pengalaman pertamaku bekerja di tempat yang lumayan jauh dari kos-kosanku di Ciputat.

Hari ini sangat macet seperti biasa. Sopir dan kondektur P-20 memutar lagu-lagu jadul. Semua penumpang duduk manis dan diam, ada yang sambil melihat jalan macet, ada yang membiarkan lagu-lagu itu menawan atau membawa terbang jiwa mereka ke alam imagi yang tidak tahu entah kemana, ada yang terkantuk-kantuk, ada yang menghentak-hentak kaki gelisah memikirkan kapan sampai di tempat kerja karena sudah hampir terlambat.

Aku melihat mata-mata penumpang kopaja yang bisa ku tangkap, merasakan setiap sinar yang redup dan terpendam dalam batin mereka... Semuanya meninggalkan isyarat lelah hidup di Jakarta dengan kemacetan dan masalah kota metropolitan lainnya. Di Jalan-jalan kota aku merangkai cerita. Macet yang melambankan perjalanan bus kopaja setiap sebelum dan sepulang dari tempat kerja membuatku terhafal akan pudarnya pesona-pesona. Di jalanan aku melihat kemiskinan sudah tak lagi terlihat menyakitakan sebagaimana saat pertama kali datang ke Jakarta, sebab kemiskinan dan kebodohan jadi komoditi dan alasan meminta, egoku kemudian menjadi sedikit tidak peduli pada mereka. Sedang gedung-gedung   milik orang kaya ramai-ramai memasang poster iklan konsumerisme yang memeras harta orang miskin yang sudah lama terbodohkan dan termiskinkan paradigmanya.

Bagaimana ini, kemiskinan telah terinstitusi, jejaring pembodohan semakin kuat, sedang paradigma kita terjajah.

Di sepanjang jalan Kopaja P-20

No comments:

Post a Comment