Saturday, October 22, 2016

Pendidikan berbahagia

Apa tujuan pendidikan? Apakah semakin terdidik seseorang, otomatis semakin bahagia? Kenyataannya, banyak orang yg terdidik, hidupnya tidak lebih bahagia dari orang yang biasa-biasa. Sebut saja, Schopenhauer; seorang pemikir yang kecerdasannya tidak diragukan, memiliki pandangan yang sinis dan satir pada kehidupan. Dia hidup dalam kesepian dan tidak memiliki seorang kawan kecuali anjingnya. Ada juga Nietzche, dia meninggal dengan schizophrenia. Tidak sedikit kawan-kawan saya yang nilai kuliahnya cumlaude terlihat tidak sebahagia kawan yang tidak mengenyam bangku kuliah sama sekali. Lalu apa gunanya pendidikan, jika ternyata pendidikan tidak otomatis membuat orang bahagia?

Aristoteles dalam Nicomachean ethic mengatakan bahwa tujuan pendidikan bukanlah pengetahuan, melainkan tindakan. Pernyataannya itu selaras dengan teori pendidikan abad 21 bahwa pendidikan harusnya lebih mementingkan skill sebagai output. Jadi, pendidikan semestinya menghasilkan pribadi yang tahan banting terhadap benturan, bukan hanya sekedar pribadi yang bisa menghitung matematika dengan  cepat. Pendidikan harusnya nenghasilkan siswa yang bisa mengolah emosinya dengan tepat, tidak hanya pandai dalam mengolah data induksi. Tidak kalah penting lagi, pendidikan harusnya menghasilkan pribadi yang bisa menjalankan fungsinya dalam keluarga, sehingga disfungsi dalam keluarga bisa dicegah. Ketiga hal itu sangat urgen karena tahan terhadap benturan, kepandaian mengelola emosi dan fungsi keluarga adalah akar penentu; apakah sesorang bisa berbahagia atau tidak. Dua hal pertama berkaitan dengan individu  itu sendiri, sedangkan satu hal lainnya, yaitu fungsi keluarga berkaitan dg orang-orang terdekat seseorang. Orang yang lahir dari keluarga yang sehat biasanya lebih tahan terhadap benturan dan pandai dalam mengelola emosi. Sebaliknya, orang yang mentalnya tahan terhadap benturan dan pengelolaan emosinya bagus, biasanya memiliki keluarga yang bahagia. Pembicaraan ini seperti pembicaraan mengenai mana yang lebih duluan, ayam atau telur. Ayam dulu atau telur dulu. Individu dulu atau keluarga dulu? Ini akan panjang lagi pembahasannya dan butuh lembaran makalah untuk dengan detil menjelaskannya.

Baiklah.. kita perpendek saja, hemat penulis, kehidupan dimulai dari dua pasang makhluk (laki laki dan perempuan) yang berkomitmen untuk saling mencintai dan tidak melakukan hubungan seksual dengan yang lainnya dalam ikatan pernikahan. Mereka kemudian beranak pinak, lalu berkembangbiaklah manusia. Semakin lama semakin banyak jumlahnya. Di sinilah masalah bermulai. Konflik kepentingan, manipulasi, ketegangan bermunculan. Jika keluarga tidak diurus dengan betul, produk-produk bawaannya (anak-anak) bukan tidak mungkin juga tidak betul. Kesimpulannya, penulis merumuskan bahwa kurikulum berbasis keluarga harus dimasukkan dalam pendidikan kita. Mulai dari hal yang paling dasar yaitu pekerjaan rumah tangga. Pendidikan harus memasukan daftar pekerjaan rumah tangga sebagai skill dasar yang harus dikuasai siswanya sepeti skill memasak, menjahit pakaian, membangun rumah dan lain lain. Kurikulum ini disesuaikan dengan level dan usia siswanya. Semakin tinggi level siswanya tentu semakin tinggi materi dan pelajaran yang harus diberikan.

Selanjutnya, pengetahuan tidaklah bermanfaat bagi orang yang mengejar semua kepentingannya dengan emosinya dan siapa pun yang lemah secara moral. Namun, mereka yang dapat mengatur keinginan-keinginan dan tindakan-tindakan dengan prinsip-prinsip rasional akan mendapat keuntuntungan. Maka, kurikulum pendidikan semestinya memasukan ajaran moral dan prinsip-prinsip rasional sebagai landasan bagi hidup siswanya yang penuh dengan tantangan.

Sebagai tambahan, bagi orang yang dewasa akalnya, mereka bisa belajar sendiri, mereka belajar dari kesalah-kesalahannya dan kesalahan-kesalahan orang lain. membentuk pribadi "self learner" itu  tentu lebih penting daripada hanya menyuapi siswa dengan berbagai macam informasi yang sebenarnya belum tentu mereka perlukan dalam medan kehidupannya. "Self learner" selalu berkembang dan tidak pernah berhenti belajar, meskipun secara institusi mereka bukanlah siswa di perguruan tinggi mana pun. Mereka sadar bahwa kebijaksanaan bukanlah karena akumulasi waktu di meja belajar, tapi akumulasi pengalaman yang dihayati. Mereka tahu bahwa yang tidak belajar dari pengalamannya, tdk akan mendapatkan apa-apa, kecuali waktu dan jatah hidup yang berkurang.

Sekian dan bersambung..

No comments:

Post a Comment