Thursday, October 24, 2019

Pernikahan adalah perjalanan horizontal

Seseorang yg pernikahannya bahagia, dia akan jd raja/ratu, tetapi jika tidak, dia akan jd filososf.

Entah ini lelucon atau memang realitasnya spt itu. Tp mendengarnya sy slu tertawa. Filosof diasumsikan sbg orng yg berfikir rumit, njlimet, atau dg kata lain orng yg banyak fikiran.

Mari coba kita priksa kehidupan perkawinan kita apakah kita jd raja/ratu atau jd filosof? Hehe

Dlm pernikahan, kita "berbagi" hal yg sangat dalam, yg tdk kita bagi dg siapa pun di dunia ini. Bukti dr kedalaman itu adalah anak. Anak adalah hasil sharing yg sgt intim dan bermakna tdk hy secara seksual tp jg ada ruh spiritual dan sgala kualitas kemanusiaan kita.

Anak-anak adalah cermin hubungan emosional dan cermin cinta kedua orng tuanya.

Yah.. sayang ya, pernikahan tdk selalu berjalan dg tawa dan kebahagiaan. Adakalanya konflik, cekcok, selisihfaham membuat kita dipaksa mereview apa sj yg sdh dijalani selama ini.

Dunia pernikahan sering membuat kita lupa dg kekhasan kita sbg individu. Kita terlalu fokus kpd "the others" yg saat ini berada dlm lingkaran tanggung jawab kita; suami/istri, anak. Tdk disadari, itu membuat kita "lelah". Kita butuh ruang untuk mengaktifkan ke"dirian" kita; yg akan membuat kita refresh dan kembali bs menghayati peran kita dlm rumah tangga.

Suami yg terlalu fokus mencari uang, sering lupa bahwa tdk hy uang yg dibutuhkan seorang istri, pertolongannya dlm mengurus tugas domestik, turut serta dlm mengurus anak, kata-kata manis dan godaan-godaan kecil, humor-humor lucu, aprsesiasi, ajakannya beribadah bersama spt solat berjamaah, sahur dan puasa sunnah bareng... Memberikan masukan ttg hal2 yg menurut isteri berat atau hy skdar meluangkan waktu untuk mngobrol santai dg istri, dilupakan... Jk tdk disadari, menumpuklah maslah itu dan suatu saat akan jd bom waktu..
Konsekwensi terburuknya bs berujung perpisahan.. walau pun sebnarnya suami sdh mrasa benar krn beranggapan bahwa tugas utamanya adalah mencari nafkah, dan si istri merasa benar krn dia meminta haknya yg lain, tetapi suami tdk menerimanya dan menganggap istri terlalu banyak menuntut. Keoslah...

Dlm kasus istri yg terlalu fokus dg fungsinya dlm rumah tangga, tp lupa untuk meng up-grade kediriannya sering tampak pada istri yg terlalu sibuk dg anak-anaknya, sehingga lupa bahwa suaminya jg perlu ditanya, dimanja, dipijit2 mesra, selera seksualnya perlu distimulasi, badan si istri yg semakin gendut perlu diurus, kerja keras suami perlu dihargai, hubungan dg keluarga suami perlu diperekat, bangun lbh pagi, berdandan atau sekedar rapi dan wangi saat suami berangkat kerja... Istri di sini sering merasa benar dan tdk mau instrospeksi krna dia terlalu "drain" (lelah) mengurus anak dan rumah tangga yang tdk ada habisya tapi tampak sepele... maka, secara tdk disadari dia menciptakan konflik yg mungkin akan sgt fatal.

Pernikahan memang tdk serumit apa yg difikirkan dan tdk juga semudah membalikkan tangan. Pernikahan adalah bagian dr perjalanan hidup, yg juga akan membuat kita tumbuh sbg manusia.

Pada akhirnya jika semuanya tidak dijalani dg seimbang, maka apa pun akan rusak pelan atau secepatnya.

Sy percaya bahwa perjalanan apa pun yg kita lewati adalah perjalan ke dalam diri sendiri pada hakikatnya.. dan kita memang melaluinya  seorang diri. Pernikahan memang tampak dijalani oleh dua orang, sejatinya tidak. Pernikahan adalah perjalanan individu, horizontal; kita kpd Tuhan. Pasangan adalah partner kita menuju perjalanan yg sgt agung itu. Melalalui pasangan dan anak-anak kita, kualitas kemanusiaan kita terus diasah, jika kita berkenan berfikir.

Meyakini bahwa pernikahan adalah sesakral itu, kita akan punya energi untuk selalu memperbaiki diri secara individu, alih-alih menuntut pasangan kita berubah menjadi lbh baik berdasarkan expektasi kita.

Karena BUKAN... Masalah itu sbnernya bukan di luar, bukan krn pasangan kita yg salah, atau anak kita yg merepotkan dan bla bla bla.. semua itu adalah tentang kita sendiri.

Sesungguhnya pernikahan adalah perjalanan spiritual; di mana keikhlasan seseorang diuji, kesabarannya dites, daya hidupnya dikuatkan, kecerdasan problem solvingnya dipertajam dan keterampinan negosiasinya diperhalus. Pernikahan itu sangat dalam maknanya. Krn itu, perceraian selalu membawa konsekwensi menyakitkan yg mungkin akan membekas sampai 7 keturunan kita ke depan.

Manusia akan dinilai berdasarkan kerja dan usahanya.. mungkin pernikahan itu akan indah jika masing-masing menyadari bahwa dirinya bukanlah individu yg sempurna, tetapi sedang dlm proses penyempurnaan. Hisab Allah itu sangat detail.. kebaikan2 dalam rumah tangga pasti akan dihitung rinci olehNya.. siapa yg paling baik dan paling banyak kerjanya demi sebuah perkawianan yg harmonis, dialah yg akan mendapatkan pahala.

Inilah agaknya mengapa para pelatih dan trainer pernikahan selalu berpesan untuk melibatkan Tuhan dlm perkawinan dan menghadirkan Tuhan di rumah kita.

Pernikahan adalah wadah fastabiqul khairat, dan ta'awanu alal birr wa taqwa.. yg muaranya adalah Dia.

24 oktober 2019

No comments:

Post a Comment