Pelajaran Setelah Mengikuti
Festifal Olah Raga Rekreasi Nasional, 23 November, 2013
Oleh Fikriyah
“Semakin lama kita hidup, semakin banyak pula
peluang untuk melakukan penyempurnaan jiwa (perfection)”.
Ini adalah kata-kata yang secara literal dikatakan oleh Ibn Sina, Filosof
muslim dan dokter yang menginspirasi dunia kedokteran di Eropa dengan kitab asy-syifa dan al-Qanun fi Thib-nya. Dari kata-kata itu, saya meyakini bahwa Ibn
sina menyarankan kita untuk hidup lebih lama dengan menjaga dan merawat tubuh
sebagai kendaraan bagi jiwa untuk mendapatkan kesempurnaan.
Hidup lebih
lama dengan badan yang sehat adalah dambaan bagi semua orang, tapi sayangnya
tidak semua orang bisa memiliki kehidupan ideal seperti itu. Ongkos gaya hidup sehat bagi banyak orang cukup
mahal karena hal itu menuntut investasi waktu dan materi, seperti waktu untuk
olah raga dan membeli makanan-makanan yang berkualitas; mengingat tingginya
resiko stres dan tingginya persaingan serta mobilitas manusia di abad posmodern
ini, terutama di
kota-kota besar seperti Jakarta. Belum lagi makanan yang bebas dari bahan kimia
seperti MSG, pemanis, pestisida, dan polusi hampir tidak bisa dihindari.
Turut serta
pada kegiatan Fornas tanggal 23, November membuat saya semakin termotivasi
untuk lebih menjaga kesehatan dengan berolahraga secara baik dan teratur sekuat
tenaga saya. Selama perjalanan di Semarang, Dokter Pomo banyak menginspirasi
saya bagaimana menjalani hidup yang sehat seperti saran untuk tidak olah raga
di malam hari, tidak mandi dengan air dingin di atas jam 6 sore, menghindari
makanan-makanan berkolesterol tinggi serta pengetahuan soal penyakit dan
pengobatannya, hal yang paling saya ingat dari diskusi bersama Dokter Pomo
adalah bahwa olah raga membatu tubuh untuk melakukan detoksifikasi.
Selain itu,
teman-teman di bus yang terbuka, kekeluargaan dan ramah membuat perjalanan di
Semarang terasa menyenangkan. Tidak hanya pandai menari, aerobik, saya juga
menemukan bakat-bakat luar biasa dari teman-teman seperti bakat dalam seni
menyanyi dan melawak, itu semua membuat saya lebih tertarik untuk lebih aktif
di Orhiba dan Komunitas-komunitas olah raga seperti Formi.
Adapun saran
saya untuk Fornas adalah soal kordinasi dan persiapan. Acara di Semarang kurang
terkoordianasi dengan baik, akomodasi yang kurang bagus seperti hotel yang
tidak nyaman dan terlalu jauh, jadwal acara yang tidak jelas, persiapan yang
kurang matang, bus terlalu sering berhenti karena terlalu banyak acara beli
oleh-oleh, membuat kita semua jadi boros waktu dan buang tenaga sia-sia. Saya
rasa koordinasi harus lebih jelas di kemudian hari dengan cara briefing
terlebih dahulu bersama sopir bus dan peserta agar semuanya lebih jelas dan
fokus pada tujuan substansial.
No comments:
Post a Comment