Tuesday, March 25, 2014

FORMI SEMARANG 20013



Pelajaran Setelah Mengikuti Festifal Olah Raga Rekreasi Nasional, 23 November, 2013

Oleh Fikriyah

 “Semakin lama kita hidup, semakin banyak pula peluang untuk melakukan penyempurnaan jiwa (perfection)”. Ini adalah kata-kata yang secara literal dikatakan oleh Ibn Sina, Filosof muslim dan dokter yang menginspirasi dunia kedokteran di Eropa dengan kitab asy-syifa dan al-Qanun fi Thib-nya. Dari kata-kata itu, saya meyakini bahwa Ibn sina menyarankan kita untuk hidup lebih lama dengan menjaga dan merawat tubuh sebagai kendaraan bagi jiwa untuk mendapatkan kesempurnaan.

Hidup lebih lama dengan badan yang sehat adalah dambaan bagi semua orang, tapi sayangnya tidak semua orang bisa memiliki kehidupan ideal seperti itu. Ongkos  gaya hidup sehat bagi banyak orang cukup mahal karena hal itu menuntut investasi waktu dan materi, seperti waktu untuk olah raga dan membeli makanan-makanan yang berkualitas; mengingat tingginya resiko stres dan tingginya persaingan serta mobilitas manusia di abad posmodern ini, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Belum lagi makanan yang bebas dari bahan kimia seperti MSG, pemanis, pestisida, dan polusi hampir tidak bisa dihindari.

Turut serta pada kegiatan Fornas tanggal 23, November membuat saya semakin termotivasi untuk lebih menjaga kesehatan dengan berolahraga secara baik dan teratur sekuat tenaga saya. Selama perjalanan di Semarang, Dokter Pomo banyak menginspirasi saya bagaimana menjalani hidup yang sehat seperti saran untuk tidak olah raga di malam hari, tidak mandi dengan air dingin di atas jam 6 sore, menghindari makanan-makanan berkolesterol tinggi serta pengetahuan soal penyakit dan pengobatannya, hal yang paling saya ingat dari diskusi bersama Dokter Pomo adalah bahwa olah raga membatu tubuh untuk melakukan detoksifikasi.   
Selain itu, teman-teman di bus yang terbuka, kekeluargaan dan ramah membuat perjalanan di Semarang terasa menyenangkan. Tidak hanya pandai menari, aerobik, saya juga menemukan bakat-bakat luar biasa dari teman-teman seperti bakat dalam seni menyanyi dan melawak, itu semua membuat saya lebih tertarik untuk lebih aktif di Orhiba dan Komunitas-komunitas olah raga seperti Formi. 

Adapun saran saya untuk Fornas adalah soal kordinasi dan persiapan. Acara di Semarang kurang terkoordianasi dengan baik, akomodasi yang kurang bagus seperti hotel yang tidak nyaman dan terlalu jauh, jadwal acara yang tidak jelas, persiapan yang kurang matang, bus terlalu sering berhenti karena terlalu banyak acara beli oleh-oleh, membuat kita semua jadi boros waktu dan buang tenaga sia-sia. Saya rasa koordinasi harus lebih jelas di kemudian hari dengan cara briefing terlebih dahulu bersama sopir bus dan peserta agar semuanya lebih jelas dan fokus pada tujuan substansial.

No comments:

Post a Comment