Sepenggalahan matahari naik mulai tinggi
Ratusan kata belum selesai kuseleksi untuk sebuah puisi
Keningku makin merapat sempit
Setiap waktu memikirkan soal gerangan yang tampak tidak konkrit
Siapakah Engkau?
Seseorang atau sesuatu?
Yang aku terima hanya berita-berita, hanya prasangka, bukan ilmu,
Siapakah Engkau?
Kata Freud, aku sendiri yang menciptakanMu,
atas nama luka,
karena rongga dadaku yang setengah hilang sejak lahir,
dan fikiranku dipenuhi delusi,
Kau hanya ilusi.
Nietzsche menjawab, "Kau telah Mati"
Feurebach bilang Kau cuma abstraksi
Kau itu narkose, begitu kata Marx
Kau bukan separuh, bukan setengah, atau sebagian, Kaulah seluruh, kata Arabi
Kau cahaya di atas cahaya Kata Suhrawardi
Kau tidak bisa didefinisikan, kata sufi
Kau tiga dalam satu, kata orang Nasrani
Kau adalah bhagavan, sumber segala wujud kata orang Hindu
Kau tidak bernama, tidak ada sebagai person, Kau ada bersama segala, bersemayam di mana-mana, di alam dan setiap ada, kata Budha.
Siapakah Engkau?
Mengapa Kau sangat intim di entah berantah;
Sesuatu yang amat warna dalam syair,
sekaligus amat absurd dalam kata-kata penyair?
Apa tah....
Aku merasakanMu di sini..
Sedang menertawakanku yang mulai pusing dengan teori-teori
KataMu, "Aku ini"...
"Kau" yang selalu aku tuntut, selalu aku salahkan setiap aku kesakitan,
selalu aku teriakkan ketika kesepian,
"Kau" yang selalu aku bohongi dan ratusan kali aku ingkar janji,
"kau" tempat berpulang, yang selalu menjadi jalan;
saat aku melesat terbang atau terpuruk di jurang,
saat aku kokoh menjadi atau debu yang menyusup di liang-liang.
BO BIS Bintaro, 25 Maret 2014
dia adalah dia... dan tak ada yang sepertinya
ReplyDelete