Wednesday, June 23, 2021

pandir

Kita menganggap hidup dengan penuh makna. Orang di luar mungkin menertawakan kesombongan besar kita yang kecil.

Bermacam pengetahuan; filsafat, sejarah dunia, sastra, kebudayaan dan informasi tentang kemajuan peradaban kita baca setengah-setengah, tapi kita merasa menguasai kebijaksanaan. 

Kita menyombongkan ilmu yang sedikit dan merasa tahu segalanya. Merendahkan hal-hal baru dan populer karena dianggap dangkal. 

Kita tidak mau berendah hati pada yang tua karena menganggap mereka konservaitf, berpikiran usang dan korup. Di sisi lain, kita meremehkan generasi setelah kita dan enggan untuk mendengar gagasan-gagasan baru yang menurut kita tidak bermutu.

Siapa yang kita panut? Kita kehilangan arah. Tasawuf/tariqat dianggap tidak cocok karena kebanyakan pengikutnya orang melarat dan tidak terdidik. 

Kita juga tidak mau mendengar intelektual, karena mereka sering membual dan banyak omong tapi minim kerja dan angkuh.

Kita alergi pada sastrawan yang menggaungkan budaya, tetapi mereka banyak yang cabul dan berkata kotor.

Kita tidak percaya institusi agama karena sangat elitis, hirarkis dan penuh motif terselubung. Juga, kita tidak meu mengikuti golongan kiri yang dalam gagasan besar mereka anti pada kemapanan tapi sangat rakus dan jorok. 

Kita merendahkan orang miskin karena menganggap mereka lelet, tolol, tidak punya etos kerja dan bermental meminta. 

Kita nyinyir dengan orang kaya dan menganggap mereka licik, tukang peras dan suka merndahakan kaum pinggiran.

Kita? Mungkin ini semua tentang aku yang pandir. Aku menganggap langitku lebih luas dari langit dunia mana pun, nyatanya langitku hanya bayang-bayang kosong di ruanganku yang gelap dan sepi.

Ciputat, 24 juni 2021

No comments:

Post a Comment