Kata-kataku yang tajam di dadamu lima tahun silam,
mungkin masih terasa seperti partikel kaca di hatimu.
Ia melewati tahun demi tahun di langit, dan telah kusam di lembar kalender.
Namun bagiku, ia masih terdengar, berdenyut setiap hari,
menusuk jari-jari ingatan.
Tak pernah ada niat menjadi belati di jantungmu,
tak pula bermaksud meretakkan rumah yang kita bangun dari kepercayaan.
Aku menyesalinya bukan karena aku tertangkap bersalah,
melainkan karena aku tahu kata-kata itu melesat dari busur emosi yang belum sempat benar-benar kupahami.
Peristiwa bisa berlalu,
tetapi penyesalan memilih tinggal lebih lama.
Maafkan aku.
No comments:
Post a Comment