Monday, April 26, 2021

besok bernafas lega lagi

Suatu ketika aku pernah menangis sangat lama tanpa suara, hingga sebagian bantal kempis penuh air mata, seluruh pipi-wajah banjir, kantung mata membengkak, sulit menghirup udara, lalu kelelahan dan jatuh tertidur dengan satu tangan dan dada berongga.

Kenapa banyak orang begitu mudah percaya dan cukup hanya dengan satu penjelasan, aku tidak?

Mengapa orang begitu mudah tertawa pada hal remeh dan lelucon yang menurutku terasa menusuk-nusuk?

Mungkin.. aku menganalisa terlalu banyak, berprikir terlalu keras, menangis pada sebab kecil, dan sangat rentan akan segala hal.

Diriku yang patah setengah kala itu kerap berkata membangkitkan.. "Esok, pagi akan kembali, mengawetkan airmatamu menjadi kristal, burung-burung gereja akan bergeliat di genteng lebar dan pohon besar mencari keberkahan Tuhan, kamu akan bernafas lega lagi, matahari akan mengeringkan lukamu yang basah."

Waktu itu adalah fase terberat, tetapi terintim; kadang kedukaan membuat kita makin merasakan diri sendiri, lebih sensitif pada dunia, gerak gerik, air muka sekaligus kata.

Ciputat, 26 april 2021

No comments:

Post a Comment