Friday, August 13, 2021

Getir

Aku tidak menemukan bunga atau buah.
Semuanya duri, menusuk-nusuk.

Limpaku tersayat sembilu; 
racun menyebar; merusak darah, tubuh, dan wajah.
Hati yang pahit menjadi getir di kata dan sikap.

Aku berjalan tanpa arah mencari pertolongan, 
berpeta kabar dan delusi.

Mataku gelap;
mencoba melihat dengan berbagai pikiran lurus atau sesat, 
aku berlari kesana kemari tak tahu rimba, 
langkahku terseok ke sembarang jalan.

Beberapa orang menaruh iba, tapi tidak melakukan apa-apa.
Sebagian mereka hanya melihat-lihat dan membicarakan kesalahanku.
Aku tidak percaya kepada siapa-siapa.

Meski begitu, aku mencoba tetap hidup; sambil berusaha tidur saat malam dan terjaga pada kenyataan, 
bekerja keras sambil menanggung batu di dada, 
membaca wirid yang kuhapal sebanyaknya, 
mempertahankan kewarasan meski sadar sedang dalam kegilaan,
membiasakan diri merenung sebelum bicara,
dan menimbang setiap perbuatan kecil atau besar.

Hanya saat menulis aku bebas dan merasa utuh dalam puisi.

Aku ingin tahu sebenarnya apa yang membuatku tak lagi berhasrat pada lembayung dan langit nila.

14 agustus 2021

No comments:

Post a Comment