Aku jatuh cinta
pada tanganmu—
tangan yang besar,
namun selalu belajar lembut
saat menemukan tanganku.
Ia hadir sebagai pagi
ketika bermain dengan tawa anak-anak kita,
menjadi senja
yang memijat lelah tanpa suara,
menjadi malam
yang merayu dengan sabar,
dan fajar
yang memaafkan
tanpa perlu alasan.
Aku menyukai caramu menggenggam—
erat,
namun tak pernah memaksa.
Kau tak menarikku dengan kuasa,
kau menuntunku dengan rasa.
Di dalam genggaman itu
ada tenang yang menetap,
ada janji yang tak perlu diucapkan,
ada keberanian
untuk melangkah bersama
meski dunia sering rapuh.
Di hadapanmu
aku belajar menjadi rumah
yang lebih teduh:
menurunkan nada,
melembutkan kata,
mengganti perintah
dengan pengertian.
Jika kau melihatku diam,
ketahuilah—
aku sedang bertumbuh,
menyulam diri
agar pantas tinggal
di dalam cintamu.
Kadang dunia menakutkan,
memperlihatkan cinta yang runtuh
di balik senyum yang rapi.
Namun setiap kali
tanganmu menemukan tanganku kembali,
aku tahu—
kita memilih berakar,
bukan sekadar bertahan.
Semoga pernikahan ini
dilindungi dari gaduh,
dijaga dari lupa,
dan ditumbuhkan
oleh kesetiaan
yang sederhana namun setia.
Terima kasih
karena selalu pulang,
karena menjaga dirimu
demi kita,
dan karena di antara tanganmu
aku selalu tahu
ke mana harus kembali.
No comments:
Post a Comment