Suara berisik,
makian dan teriakan
masih terkam di kepalaku,
menjadi gema
yang membuatku gemetar
bahkan ketika rumah telah sunyi.
Sepotong masa kecilku
gelap dan pengap,
dipenuhi kata-kata tajam
yang saling dilempar
tanpa pernah memikirkan
aku yang mendengar.
Dari kedua orang tuaku
aku menyaksikan permusuhan
yang tak menemukan ujung,
maaf yang terasa terlalu mahal,
maklum yang terlalu berat,
dan pengertian
yang tak pernah benar-benar diusahakan.
Aku belajar lebih cepat dari seharusnya:
bahwa cinta bisa melukai,
bahwa ego sering menang
atas empati,
bahwa orang dewasa pun
bisa sangat kejam
saat menolak bercermin.
Dari mereka
aku mengenal sisi gelap manusia—
keegoisan yang dibenarkan,
kejahatan yang disamarkan
atas nama luka masing-masing.
*Anak dari Pertengkaran*
Aku membenci suara yang pecah
di antara dinding rumah
tempat seharusnya aku belajar merasa aman.
Aku membenci caramu, Ibu dan Bapak,
menarikku ke medan perang
memintaku memilih,
seolah cintaku harus dibelah dua
agar kalian merasa menang.
Hubungan kalian yang kusut
bukan tanggung jawabku,
tapi akulah yang memikul reruntuhannya setiap malam
dalam dada yang terlalu cepat belajar takut.
Dari emosi kalian yang tak stabil,
aku tumbuh menjadi sunyi,
meragukan dunia,
meragukan diriku sendiri,
belajar berjaga bahkan saat lelah.
Jika marah boleh bersuara jujur,
maka dengarlah:
aku tidak meminta lahir
untuk menjadi penyangga luka kalian.
Namun aku masih di sini—
anak yang terluka,
tapi sadar:
bahwa kesalahan kalian
bukan takdirku.
Dan suatu hari,
aku akan belajar mencintai
tanpa harus saling melukai.
Masa kecilku sangat sunyi,
menyedihkan, kosong, dan nyeri,
seperti ruangan tanpa jendela
yang tak pernah tahu
bagaimana rasanya cahaya.
Aku tidak pernah benar-benar dicintai,
atau setidaknya
tidak dengan cara yang membuatku merasa cukup.
Ibuku jarang berbicara padaku,
kecuali untuk menyuruh,
kecuali saat aku dibutuhkan,
bukan dirindukan.
Aku bertanya pada diriku sendiri:
apakah aku anak durhaka?
Padahal aku tahu,
aku diberi makan dan minum,
tapi dengan perhitungan,
dengan suara tinggi,
dengan makian yang menusuk
lebih dalam dari rasa lapar.
Aku tidak mengerti
seperti apa cinta yang hangat,
yang menenangkan,
yang tidak membuatku takut
atau merasa berutang untuk hidup.
Aku tumbuh dengan keyakinan keliru:
bahwa aku jelek
karena tidak disayang,
bahwa ada yang salah denganku
hingga kasih tak pernah betah tinggal.
Padahal kebenarannya
bukan aku yang gagal dicintai,
tetapi mereka
yang tak tahu caranya mencinta.
Dan anak kecil itu—aku—
tidak durhaka,
ia hanya terlalu lama menunggu
dipeluk.
30 Desember 2025
No comments:
Post a Comment