Sunday, June 9, 2013

Kebebasan vs kecemasan

Mimpi.... adalah hal indah yg entah terbuat dari apa, mungkin itu adalah sepuhan para dewa di atas jiwa manusia yang rentan berkarat. Mimpi membuat manusia menjadi bahagia, berharap, dan bertahan hidup, tapi jika hanya jadi mimpi, ia akan kembeku dan kita menjadi manusia pada perjuangan seumur hidup.

Soalan mimpi dekat dengan soalan kecemasan, apa yang ditakuti dan dicemaskan harus diterangi sampai kita tidak takut lagi, walaupun dengan rasa takut itu, kita sadar bahwa kita bebas itu kata-kata Sarasdewi dalam bedah huku terbaru Ayu Utami "pengakuan eks parasir lajang" di salihara. Kata-kata yang simple tapi cukup menampar jalan kesadaran yang tersumbat. Adapun kata Sartre, seorang filosof eksisteinsialis menyatakan bahwa "kecemasan adalah kesadaran bahwa masa depan saya seluruhnya bergantung pada saya."

Kecemasan yang ada di atas kepalaku ini berposisi sebagai bara, ia terus menguhujam ke bawah sampai aku menyusut, ingin rasanya meminta air kepada siapa saja, mengemis belas kasih kepada siapa saja, tapi ketika aku berteriak menyeruakkan permohonan, jerit peluh dan suaraku hilang dikerumunan masa, aku begitu kecil ada dalam realitas, ternyata suara rintihan yang nyaring itu, yang sangat kuat itu telah menghiangkan suaraku, adalah suara komplotan orang-orang yang sama sepertiku, menderita kecemasan--kecemasan yang komunal. Ke mana harus ku cari obat untuk itu, mungkin jalan satu-satunya adalah kembali pada Tuhan, yang menciptakan kecemasan, sekaligus penawarnya.

Tihan tunjukkan lagi aku jalan-jalanMu malam ini, kecemasan hampir membunuhku lagi... Tuhan, maku berpegang sangat erat agar tak gila atau mati sia-sia.....

Cirebon 7 agus 2013

No comments:

Post a Comment