Friday, August 28, 2020

Untuk anak perempuanku

Apakah Tuhan menyiapkan bahan yang berbeda dalam menciptakan laki-laki dan perempuan? Pertanyaan ini muncul di benak setiap laki laki dan perempuan semenjak keduanya tidak bisa memahami satu sama lain.

Dalam kitab suci dikatakan Tuhan, "Telah Kuciptakan laki-laki dan perempuan dari nafs yang satu". Tapi kenapa keduanya berbeda sehingga menyisakan konflik yang entah dari berapa juta tahun kemanusiaan bermulai.

Sebelumnya saya meminta maaf kepada pembaca, karena dalam tulisan ini saya cenderung tidak netral dan berpihak. Yah, itu karena sebagai subjek, saya tidak bisa menafikan diri sebagai perempuan.

Izinkan saya berbicara kepada anak perempuan pertama saya di sini, semenjak bau kematian kadang menakuti, ada kecemasan bahwa anak saya suatu saat akan mencari arahan karena kebingungan eksistensialitasnya yang perempuan.

"Anakku, pertama kali, semenjak lingkungan mengidentifikasimu sebagai perempuan, kau harus berpakaian dan bergaul sebgai perempuan stereotipe; pemalu, halus, penurut, cantik, anggun. Memang tidak ada yang salah dengan rentetan kata-kata itu, tapi kata-kata itu memiliki jebakan, yaitu ekspansimu akan terbatas."

"Anakku, ketahuilah, tidak ada yang bisa mengekangmu, bahkan orang tuamu. Jiwamu sepenuhnya bebas, tapi bagaimana pun, kebebasan selalu beriringan dengan penerimaan tanggung jawab. Jadilah dirimu, seperti yang Tuhanmu rencanakan. Jadilah bersinar, jadilah bintang, karena kamu adalah salah satu dari Ruhnya yang tertiup dalam jasad berbentuk manusia."

"Semakin besar, kamu akan mengalami menstruasi dan dadamu semakin menunjukkan bahwa dirimu adalah perempuan. Jangan takut, berbanggalah kamu mengalaminya,  karena dari rahim perempuan, lahir milyaran manusia. Kita menyumbangkan darah, daging, tulang-tulang bahkan segenap nyawa untuk kehidupan."

"Setelah itu kamu akan tertarik dengan makhluk berlainan jenis, namun masih dalam satu spesies bernama laki-laki. Sabarlah dengan perasaanmu, mama tahu, jantungmu seperti diremas-remas, fikiranmu serasa dicuci, semuanya hanya tentang laki-laki yang kamu cintai itu."

"Jika kamu menikahinya, beruntunglah, jika tidak kamu akan mendapatkan keberuntungan lain. Tidak ada kerugian dalam mencintai, karena mencintai adalah perbuatan besar yang hanya sanggup dikerjakan orang-orang besar."

"Selanjutnya dalam rumah tangga, kamu akan mengalami banyak hal; pahit manis, getir nikmat, apa pun itu berfikirlah lalu petik pelajarannya. Laki-laki yang baik akan menerima keterbatasanmu."

No comments:

Post a Comment